MUSAFIR INDONESIA TIDAK WAJIB SALAT SUBUH?
Ketika Jadwal Bus Menguji Kesadaran Beragama

By IAIDA LAMPUNG 06 Nov 2026, 10:11:29 WIB Diskusi
MUSAFIR INDONESIA TIDAK WAJIB SALAT SUBUH?

Gambar : Perjalanan Jauh


Oleh: AR Ahyar

Perjalanan jauh menggunakan bus sudah menjadi hal biasa bagi masyarakat Indonesia. Namun, ada persoalan yang sering terjadi, yaitu sulitnya penumpang muslim melaksanakan salat Subuh tepat waktu.

Ketika waktu Zuhur, Asar, Magrib, atau Isya tiba, bus biasanya berhenti di rumah makan atau tempat istirahat. Penumpang dapat makan, beristirahat, sekaligus melaksanakan salat. Namun, ketika waktu Subuh tiba, tidak semua bus memberikan kesempatan untuk berhenti. Bahkan, terkadang bus baru berhenti setelah matahari terbit.

Keadaan ini menimbulkan pertanyaan, apakah musafir tidak wajib melaksanakan salat Subuh?

Tentu saja tidak demikian. Dalam Islam, salat lima waktu tetap wajib dilaksanakan, termasuk bagi orang yang sedang bepergian. Islam memang memberikan keringanan bagi musafir, tetapi salat Subuh tetap dua rakaat, tidak dapat diqasar maupun dijamak dengan salat lainnya.

Antara Pengetahuan Agama dan Kebiasaan

Jika dilihat dari psikologi pendidikan, persoalan ini menunjukkan bahwa mengetahui ajaran agama belum tentu membuat seseorang mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sejak kecil, umat Islam diajarkan bahwa salat merupakan kewajiban. Namun, ketika berada dalam perjalanan, sebagian orang justru kesulitan melaksanakannya. Ada yang sungkan meminta sopir berhenti, ada yang memilih menunggu sampai bus beristirahat, dan ada pula yang belum memahami cara beribadah dalam keadaan sulit.

Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan agama tidak cukup hanya mengajarkan teori dan hafalan. Pendidikan juga harus membentuk kebiasaan, kesadaran, dan kemampuan mencari solusi ketika menghadapi persoalan nyata.

Lingkungan juga memengaruhi perilaku seseorang. Jika sopir dan kru bus terbiasa memberikan kesempatan salat, penumpang akan merasa bahwa ibadah merupakan kebutuhan penting. Sebaliknya, jika waktu Subuh sering diabaikan, lama-kelamaan keadaan tersebut bisa dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Pentingnya Kesadaran Beragama

Dalam psikologi pendidikan, seseorang dapat melakukan sesuatu karena dorongan dari luar atau karena kesadaran dirinya sendiri.

Orang yang salat hanya karena diingatkan mungkin akan mengabaikannya ketika tidak ada yang mengawasi. Sebaliknya, orang yang memiliki kesadaran beragama akan berusaha melaksanakan kewajibannya meskipun menghadapi kesulitan.

Karena itu, pendidikan agama perlu menanamkan pemahaman bahwa salat bukan sekadar kewajiban yang harus dipatuhi, melainkan bentuk tanggung jawab seorang muslim kepada Allah.

Dalam perjalanan bus, kesadaran tersebut dapat diwujudkan dengan mengingatkan sopir secara sopan, mempersiapkan kebutuhan ibadah, serta memahami ketentuan salat dalam kendaraan apabila benar-benar tidak memungkinkan untuk berhenti.

Pendidikan Agama Harus Dekat dengan Kehidupan

Pembelajaran agama sebaiknya tidak hanya membahas tata cara salat dalam keadaan normal, tetapi juga mengajarkan cara menghadapi keadaan yang sulit.

Misalnya, guru memberikan contoh kasus bus yang tidak berhenti saat waktu Subuh. Peserta didik kemudian diajak berdiskusi tentang kewajiban salat, keringanan bagi musafir, dan solusi yang dapat dilakukan.

Melalui pembelajaran seperti ini, peserta didik tidak hanya menghafal hukum agama, tetapi juga belajar berpikir kritis, bertanggung jawab, dan mengambil keputusan dengan bijaksana.

Di sisi lain, perusahaan bus dan kru kendaraan juga perlu memperhatikan kebutuhan ibadah penumpang. Jika memungkinkan dan aman, waktu istirahat dapat disesuaikan dengan waktu salat Subuh. Penumpang pun perlu menyampaikan kebutuhannya dengan santun dan tetap menghargai keselamatan bersama.

 




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment