HILANGNYA BAHASA IBU DI ERA MODERN

By IAIDA LAMPUNG 19 Okt 2026, 12:22:40 WIB Diskusi
HILANGNYA BAHASA IBU DI ERA MODERN

  • Oleh : AR. Ahyar
  • Metro, 19 Oktober 2026
     

HILANGNYA BAHASA IBU DI ERA MODERN: KETIKA IDENTITAS PERLAHAN TERLUPAKAN

Bagaimana jika suatu hari anak-anak kita fasih berbicara dengan dunia, tetapi tak lagi memahami bahasa orang tuanya sendiri?

Bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi. Di dalamnya tersimpan identitas, sejarah, nasihat leluhur, cerita rakyat, dan nilai-nilai yang membentuk jati diri suatu bangsa. Di Indonesia, bahasa daerah adalah kekayaan yang tak ternilai. Namun, tanpa disadari, sebagian bahasa ibu perlahan kehilangan penuturnya.

Mengapa Bahasa Ibu Mulai Menghilang?

Perubahan pola komunikasi keluarga, dominasi bahasa Indonesia dan bahasa asing, pengaruh media digital, serta anggapan bahwa bahasa daerah sudah ketinggalan zaman menjadi beberapa penyebabnya.

Ketika orang tua berhenti berbicara dalam bahasa daerah kepada anak-anaknya, pewarisan bahasa mulai terputus. Anak-anak mungkin mengenal bahasa dunia melalui layar, tetapi justru asing terhadap bahasa yang diwariskan oleh keluarganya sendiri.

Bahasa tidak hilang dalam sehari. Akan Tetap akan hilang ketika tak lagi digunakan, tak lagi diajarkan, dan tak lagi dianggap penting.

Apa yang Hilang Ketika Bahasa Ibu Punah?

Yang hilang bukan hanya kata-kata, melainkan juga cerita, kearifan lokal, ungkapan khas, dan ikatan antargenerasi. Ketika sebuah bahasa berhenti dituturkan, sebagian pengetahuan dan cara pandang masyarakat yang tersimpan di dalamnya juga berisiko lenyap.

Bayangkan seorang cucu yang tak lagi memahami cerita neneknya karena mereka tidak berbagi bahasa yang sama. Bukankah ada warisan yang akhirnya terputus, bahkan sebelum sempat diwariskan?

Menyelamatkan Bahasa Ibu, Menjaga Jati Diri

Pelestarian bahasa ibu tidak harus dimulai dari langkah besar. Keluarga dapat menghidupkannya melalui percakapan sehari-hari, sekolah dapat mengajarkannya secara kreatif, dan generasi muda dapat mempopulerkannya melalui media digital.

Kita tidak harus memilih antara bahasa daerah atau bahasa Indonesia, dan atau bahasa asing. Kita bisa menguasai semuanya tanpa kehilangan bahasa yang menjadi akar identitas kita.

Jangan Biarkan Bahasa Ibu Menjadi Bahasa Terakhir

Bahasa ibu akan tetap hidup selama masih ada yang menuturkannya, mengajarkannya, dan mewariskannya. Sebaliknya, bahasa itu akan perlahan menuju kepunahan ketika generasi penerus hanya mengenalnya sebagai peninggalan masa lalu.

Jangan sampai suatu hari kita hanya bisa mengenang bahasa ibu melalui kamus, rekaman, dan cerita sejarah. Sebab, ketika sebuah bahasa kehilangan penutur terakhirnya, dunia kehilangan satu suara, satu pengetahuan, dan satu bagian dari kekayaan manusia.

Menjaga bahasa ibu bukan berarti menolak kemajuan, melainkan memastikan bahwa di tengah kemajuan, kita tidak kehilangan jati diri.

HILANGNYA BAHASA IBU DI ERA MODERN: KETIKA IDENTITAS PERLAHAN TERLUPAKAN

Bagaimana jika suatu hari anak-anak kita fasih berbicara dengan dunia, tetapi tak lagi memahami bahasa orang tuanya sendiri?

Bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi. Di dalamnya tersimpan identitas, sejarah, nasihat leluhur, cerita rakyat, dan nilai-nilai yang membentuk jati diri suatu bangsa. Di Indonesia, bahasa daerah adalah kekayaan yang tak ternilai. Namun, tanpa disadari, sebagian bahasa ibu perlahan kehilangan penuturnya.

Mengapa Bahasa Ibu Mulai Menghilang?

Perubahan pola komunikasi keluarga, dominasi bahasa Indonesia dan bahasa asing, pengaruh media digital, serta anggapan bahwa bahasa daerah sudah ketinggalan zaman menjadi beberapa penyebabnya.

Ketika orang tua berhenti berbicara dalam bahasa daerah kepada anak-anaknya, pewarisan bahasa mulai terputus. Anak-anak mungkin mengenal bahasa dunia melalui layar, tetapi justru asing terhadap bahasa yang diwariskan oleh keluarganya sendiri.

Bahasa tidak hilang dalam sehari. Akan Tetap akan hilang ketika tak lagi digunakan, tak lagi diajarkan, dan tak lagi dianggap penting.

Apa yang Hilang Ketika Bahasa Ibu Punah?

Yang hilang bukan hanya kata-kata, melainkan juga cerita, kearifan lokal, ungkapan khas, dan ikatan antargenerasi. Ketika sebuah bahasa berhenti dituturkan, sebagian pengetahuan dan cara pandang masyarakat yang tersimpan di dalamnya juga berisiko lenyap.

Bayangkan seorang cucu yang tak lagi memahami cerita neneknya karena mereka tidak berbagi bahasa yang sama. Bukankah ada warisan yang akhirnya terputus, bahkan sebelum sempat diwariskan?

Menyelamatkan Bahasa Ibu, Menjaga Jati Diri

Pelestarian bahasa ibu tidak harus dimulai dari langkah besar. Keluarga dapat menghidupkannya melalui percakapan sehari-hari, sekolah dapat mengajarkannya secara kreatif, dan generasi muda dapat mempopulerkannya melalui media digital.

Kita tidak harus memilih antara bahasa daerah atau bahasa Indonesia, dan atau bahasa asing. Kita bisa menguasai semuanya tanpa kehilangan bahasa yang menjadi akar identitas kita.

Jangan Biarkan Bahasa Ibu Menjadi Bahasa Terakhir

Bahasa ibu akan tetap hidup selama masih ada yang menuturkannya, mengajarkannya, dan mewariskannya. Sebaliknya, bahasa itu akan perlahan menuju kepunahan ketika generasi penerus hanya mengenalnya sebagai peninggalan masa lalu.

Jangan sampai suatu hari kita hanya bisa mengenang bahasa ibu melalui kamus, rekaman, dan cerita sejarah. Sebab, ketika sebuah bahasa kehilangan penutur terakhirnya, dunia kehilangan satu suara, satu pengetahuan, dan satu bagian dari kekayaan manusia.

Menjaga bahasa ibu bukan berarti menolak kemajuan, melainkan memastikan bahwa di tengah kemajuan, kita tidak kehilangan jati diri.

 




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment